EKONOMI

Prabowo Targetkan BUMN Lebih Efisien, Jumlah Perusahaan Dipangkas Jadi 250 Tanpa PHK

Presiden Prabowo Subianto menargetkan proses perampingan BUMN agar jumlah perusahaan milik negara menjadi sekitar 250 entitas. Kebijakan tersebut dilakukan untuk meningkatkan efisiensi, memperbaiki tata kelola, serta mengurangi beban operasional perusahaan negara.

Presiden Prabowo menyampaikan pemerintah telah menutup lebih dari 200 perusahaan BUMN. Langkah itu menjadi bagian dari transformasi besar yang ditargetkan selesai dalam dua tahun ke depan.

Dalam kesempatan tersebut, Prabowo meminta Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, menjelaskan target akhir konsolidasi perusahaan negara. Dony menyebut jumlah BUMN nantinya diperkirakan tinggal sekitar 250 perusahaan.

Presiden menilai jumlah BUMN yang terlalu banyak membuat biaya operasional semakin besar. Menurutnya, banyak perusahaan harus menanggung biaya direksi, komisaris, dan struktur organisasi yang tidak efisien.

Meski melakukan perampingan BUMN, pemerintah memastikan tidak akan terjadi pemutusan hubungan kerja. Dony Oskaria menegaskan seluruh pegawai tetap dipertahankan dan akan dialihkan ke perusahaan hasil konsolidasi.

Menurut Dony, Presiden Prabowo secara tegas tidak menginginkan adanya PHK dalam proses restrukturisasi tersebut. Pemerintah memilih melakukan penggabungan perusahaan dibanding mengurangi jumlah tenaga kerja.

Danantara saat ini sedang melakukan konsolidasi terhadap sekitar 1.077 perusahaan BUMN. Jumlah tersebut ditargetkan menjadi sekitar 200 hingga 300 perusahaan pada akhir proses transformasi.

Pemerintah mencatat sekitar 52 persen perusahaan BUMN masih mengalami kerugian. Nilai kerugian tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp20 triliun setiap tahun sehingga diperlukan langkah efisiensi yang menyeluruh.

Dony memperkirakan program perampingan BUMN dapat menghasilkan penghematan hingga Rp50 triliun per tahun. Nilai itu jauh lebih besar dibanding biaya tenaga kerja yang diperkirakan hanya sekitar Rp2 hingga Rp3 triliun setiap tahun.

Selain meningkatkan efisiensi, pemerintah berharap restrukturisasi mampu memperkuat daya saing perusahaan negara. BUMN diharapkan menjadi lebih sehat, produktif, dan mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional.

Prabowo juga mendorong agar keuntungan perusahaan negara dimanfaatkan untuk mendukung riset dan inovasi. Langkah tersebut dinilai penting agar BUMN mampu berkembang dan bersaing di tingkat global.Informasi tambahan bingung rungkat terus coba main di AYAMTOTO