BI Fokus Dorong Pertumbuhan Ekonomi, Kredit Sektor Produktif Jadi Andalan
Bank Indonesia tetap memberikan perhatian besar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pjs Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan komitmen tersebut pada Jumat, 31 Juli 2026. BI menjalankan kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Kebijakan tersebut berjalan bersama langkah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
BI juga mendorong perbankan meningkatkan fungsi intermediasi melalui penyaluran kredit kepada sektor produktif. Insentif diberikan melalui pengurangan giro wajib minimum bagi bank yang memenuhi ketentuan penyaluran kredit. Sektor prioritas dan usaha mikro, kecil, serta menengah termasuk sasaran kebijakan tersebut. BI berharap likuiditas perbankan semakin banyak mengalir menuju kegiatan ekonomi produktif.
Dorongan pembiayaan produktif sebelumnya juga ditegaskan Destry dalam Economic Briefing 2026 pada 24 Juli. Menurut BI, pembiayaan berperan strategis dalam meningkatkan produktivitas dan menciptakan lapangan kerja. Penyaluran kredit juga diharapkan meningkatkan daya saing dunia usaha. Karena itu, kualitas pembiayaan menjadi perhatian selain pertumbuhan kredit secara nominal.
Pada Juli 2026, BI mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen. Deposit Facility tetap sebesar 4,75 persen, sedangkan Lending Facility dipertahankan pada 6,50 persen. Kebijakan tersebut diarahkan untuk memperkuat stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global. BI juga menjaga inflasi 2026 dan 2027 dalam sasaran 2,5 persen plus minus satu persen.
Melalui bauran kebijakan tersebut, BI berupaya menyeimbangkan stabilitas dan pertumbuhan ekonomi. Kredit produktif diharapkan mampu memperkuat aktivitas usaha dan mendukung penciptaan lapangan kerja. Sinergi dengan pemerintah dan sektor keuangan juga menjadi bagian penting dalam menjaga momentum ekonomi nasional.Informasi tambahan capek rungkat terus coba main di AYAMTOTO
